Hufff,,, malam lagi. Rasanya, sudah beribu malam ku lalaui. Tanpa irama. Tanpa nada kehidupan. Padahal seharusnya, hening yang tercipta sudah cukup untukku bertafakur menikmati dalamnya sanubari malam. Merenungi makna dibalik angin yang berhembus. Angin yang terus berjalan tanpa rasa enggan. Mengikuti dan menikmati titah dari sang tuhan.
Kucoba untuk tersenyum. Memberi warna pada hati yang sudah terlalu liar berlari. Hati selalu yang angkuh dalam memaknai. Akankah diri ini sanggup menjaganya? Segumpal daging yang kata rasul dapat mempengaruhi seluruh tindak-tanduk manusia. Lalu, kalau tidak bisa, akan kemanakah aku ini?
Selongsong angin berhembus lagi. Sinar tenang rembulan nampak dari balik jendela. Kini, ditemani suara anggun jengkerik malam. Mungkin sedang memuji penciptanya. Aku merenungi obrolan santai tadi sore bersama seorang ikhwah. Ia memuji seorang aktifis dakwah dengan progress dakwah yang amat pesat. Dari seorang hedonis, beranjak ke hanif, lalu menjadi seorang aktifis dakwah. Hingga sekarang, prestasi dakwahnya pun terlihat gemilang. Aku tertunduk lesu. Malu.
Memang benar ucapan bang Arief, bahwa, parameter umur tarbiyah sama sekali tidak dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai kematangan tarbiyah seseorang. Tetapi, bukankah ada yang salah, jikalau seorang yang telah lama ditarbiyah tapi tidak menunjukkan progress apapun? Apalagi, jikalau penurunan yang nampak. Ya. pasti ada yang salah. Entah siapakah atau apakah itu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin aku yang disalahkan.
Bukankah hidayah itu harus kita cari? Alangkah beruntungnya orang yang mendapatkan hidayah. Dan, alangkah meruginya orang yang melepas hidayah yang telah ia dapatkan. Memang, kalimat tersebut nampak hitam-putih dan terlalu normatif. Tapi sangat mengena untukku. Teringat kisah seorang budak (Bilal ra) yang mempertahankan hidayah yang telah Allah berikan padanya. Padahal, hidayah itu tidak lebih dari sepenggal surat Al-Ikhlas. Surat yang telah aku pahami bahkan dari sebelum aku mengenyam bangku sekolah. Namun, rasa bangga atas hidayah tersebut bisa menukar rasa sakit dari berat batu yang ditumpukkan ke badannya di teriknya siang. Dan, entah, berapa cambukan yang merobek kulit pekatnya. Namun, ia tidak bergeming. Allahu ahad.
Kembali ku termenung. Meratapi ribuan tawa tadi siang. Dan, siang-siang sebelumnya. Begitu banyak kehampaan yang tercipta. Guyonan tanpa makna, arah, dan tujuan. Bukankah lebih baik diam? Kadang aku juga merasa heran mengapa aku bisa tertawa. Padahal, tawa itu berpijak diatas hati yang sama sekali tidak merasa bahagia. Hanya kamuflase dalam suasana. Layaknya bunglon.
Kucoba menelisik hal yang senantiasa mengusik. Tentang kebahagiaan. Bukankah hati adalah hal yang hakiki. Ia akan cenderung mencari kesempurnaan tuhannya. Mungkin itu salahku. Aku sering merasa bahwa hati ini akan bahagia dengan asupan materi yang berlimpah. Bukankah materi itu bersifat terbatas. Dengan sendirinya, waktu akan menjadikannya menghilang. Menghilang entah kemana. Dan, hati ibarat telaga lepas tanpa batas. Yang hanya bisa terisi penuh dari mata air hakiki. Yaitu, kesempurnaan cinta dari sang pencipta.
Malam pun semakin larut. Buih-buih mimpi mulai terasa nyata. Ingin rasanya mengubah diri. Mungkinkah? Sementara, ungkapan dari Ibu Kartini menyelimuti mimpiku. Habis gelap terbitlah terang. Semoga esok hari bisa benar-benar terang.
-agung wb-


