Menelisik Malam

•08/10/2009 • 1 Comment

Hufff,,, malam lagi. Rasanya, sudah beribu malam ku lalaui. Tanpa irama. Tanpa nada kehidupan. Padahal seharusnya, hening yang tercipta sudah cukup untukku bertafakur menikmati dalamnya sanubari malam. Merenungi makna dibalik angin yang berhembus. Angin yang terus berjalan tanpa rasa enggan. Mengikuti dan menikmati titah dari sang tuhan.

Kucoba untuk tersenyum. Memberi warna pada hati yang sudah terlalu liar berlari. Hati selalu yang angkuh dalam memaknai. Akankah diri ini sanggup menjaganya? Segumpal daging yang kata rasul dapat mempengaruhi seluruh tindak-tanduk manusia. Lalu, kalau tidak bisa, akan kemanakah aku ini?

Selongsong angin berhembus lagi. Sinar tenang rembulan nampak dari balik jendela. Kini, ditemani suara anggun jengkerik malam. Mungkin sedang memuji penciptanya. Aku merenungi obrolan santai tadi sore bersama seorang ikhwah. Ia memuji seorang aktifis dakwah dengan progress dakwah yang amat pesat. Dari seorang hedonis, beranjak ke hanif, lalu menjadi seorang aktifis dakwah. Hingga sekarang, prestasi dakwahnya pun terlihat gemilang. Aku tertunduk lesu. Malu.

Memang benar ucapan bang Arief, bahwa, parameter umur tarbiyah sama sekali tidak dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai kematangan tarbiyah seseorang. Tetapi, bukankah ada yang salah, jikalau seorang yang telah lama ditarbiyah tapi tidak menunjukkan progress apapun? Apalagi, jikalau penurunan yang nampak. Ya. pasti ada yang salah. Entah siapakah atau apakah itu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin aku yang disalahkan.

Bukankah hidayah itu harus kita cari? Alangkah beruntungnya orang yang mendapatkan hidayah. Dan, alangkah meruginya orang yang melepas hidayah yang telah ia dapatkan. Memang, kalimat tersebut nampak hitam-putih dan terlalu normatif. Tapi sangat mengena untukku. Teringat kisah seorang budak (Bilal ra) yang mempertahankan hidayah yang telah Allah berikan padanya. Padahal, hidayah itu tidak lebih dari sepenggal surat Al-Ikhlas. Surat yang telah aku pahami bahkan dari sebelum aku mengenyam bangku sekolah. Namun, rasa bangga atas hidayah tersebut bisa menukar rasa sakit dari berat batu yang ditumpukkan ke badannya di teriknya siang. Dan, entah, berapa cambukan yang merobek kulit pekatnya. Namun, ia tidak bergeming. Allahu ahad.

Kembali ku termenung. Meratapi ribuan tawa tadi siang. Dan, siang-siang sebelumnya. Begitu banyak kehampaan yang tercipta. Guyonan tanpa makna, arah, dan tujuan. Bukankah lebih baik diam? Kadang aku juga merasa heran mengapa aku bisa tertawa. Padahal, tawa itu berpijak diatas hati yang sama sekali tidak merasa bahagia. Hanya kamuflase dalam suasana. Layaknya bunglon.

Kucoba menelisik hal yang senantiasa mengusik. Tentang kebahagiaan. Bukankah hati adalah hal yang hakiki. Ia akan cenderung mencari kesempurnaan tuhannya. Mungkin itu salahku. Aku sering merasa bahwa hati ini akan bahagia dengan asupan materi yang berlimpah. Bukankah materi itu bersifat terbatas. Dengan sendirinya, waktu akan menjadikannya menghilang. Menghilang entah kemana. Dan, hati ibarat telaga lepas tanpa batas. Yang hanya bisa terisi penuh dari mata air hakiki. Yaitu, kesempurnaan cinta dari sang pencipta.

Malam pun semakin larut. Buih-buih mimpi mulai terasa nyata. Ingin rasanya mengubah diri. Mungkinkah?  Sementara, ungkapan dari Ibu Kartini menyelimuti mimpiku. Habis gelap terbitlah terang. Semoga esok hari bisa benar-benar terang.

-agung wb-

Untuk Adik dan Waktu yang Cepat

•04/08/2009 • 2 Comments

me_n_my_sister

Waktu cepat berlalu
sungguh tak terasa
Sudah tujuh tahun senyummu singgah di hatiku
masih sesejuk dahulu
senyum  hangat tanpa keangkuhan

Binar mata yang indah itu
memberiku asa
di setiap setiap ucapan selamat pagi
Saat kau memecahkan heningnya subuh
dengan luapan tangismu
yang  gegap gempita bersama kicau suara burung

Aku ingin kau terus tersenyum
menerima makna tentang hati ini
yang akan terus mencintaimu

Dan
Cinta itu…
akan selalu hadir
bersama bulan-bulan yang kau lihat
di malam dan pagimu

Kau sedang bermimpi apa?
Bulat wajahmu sungguh binar yang teduh
yang mengisi kosong ini
dengan dengan luapan cahaya
yang bernyayi merdu di setiap langkahmu

Kau ingin aku bercerita?
Tentang apa?
Kisah putri dari negeri simfoni?
Yang cakap bermain nada
dan suka menebar angin cinta
Percayalah
Harmoni yang ia lantunkan
tak semegah keceriaanmu
saat kau tertawa
diatas kejujuranmu
Kau merangkai sendiri bunga-bunga irama
di benih mimpimu yang kau jaga

IT dan Kemajuan Islam

•04/08/2009 • Leave a Comment

teknologi

Sebuah kalimat yang sering didengungkan bahwa “kita sedang hidup di era globalisasi”. Sebuah era dimana segala urusan hampir tidak lagi mempertimbangkan faktor jarak dan waktu. Makna globalisasi sendiri menuntut masyarakat untuk bertukar informasi secara cepat, tepat, dan aktual. Tuntutan tersebut menciptakan sebuah perwujudan baru dalam kehidupan yang dinamakan dengan e-life. Dimana, segala sesuatu terhubung dan terintegrasi oleh komputer . Atau, biasa kita kenal dengan istilah IT.

IT adalah sebuah wahana yang menjadi solusi bagi globalisasi. Ketangguhannya dalam mengatasi masalah kecepatan dan ketepatan menjadikan IT sebagai alternatif yang tepat. Mengingat, kecenderungan manusia untuk selalu meningkatkan efektifitas dan efisiensi.  IT juga menjadi jawaban atas permasalahan konektifitas. Dengan IT, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi tanpa mempermasalahkan jarak, waktu, dan batas-batas teritorial. Bahkan, penggunaan IT juga bisa mereduksi ongkos.

Karena kehandalannya, IT sudah merambah hampir ke segala bidang. Mulai dari media penyimpanan cerita pribadi (blog) sampai kepada transaksi keuangan makro. Perusahaan-perusahaan besar pun sudah menjadikan IT sebagai suatu kewajiban. Sektor pendidikan, juga, sudah menerapkan IT untuk mengintegerasi semua informasi. Kedepannya, perkembangan IT akan semakin meluas dan semakin menjadi kebutuhan utama bagi individu ataupun industri.

Sinyal global ini tentunya harus ditangkap oleh umat islam. Mengingat  Islam adalah agama yang syumul (komprehensif). Ruang lingkupnya menyentuh setiap aspek kehidupan dari yang kecil sampai kepada hal besar. Sehingga, islam semestinya hadir di setiap bagian kehidupan. Tidak hanya tersegmentasi oleh bagian ibadah saja. Islam juga harus merambah dunia pendidikan, enterpreneurship, politik, budaya, seni, teknologi, dan bidang-bidang strategis lainnya. Tidak hanya itu, islam semestinya juga menjadi pelopor kemajuan di setiap bidangnya. Tentunya, hal tersebut harus dipahami lengkap dengan konteks kekinian dan kedisinian. Oleh karena itu, tak ayal, IT juga merupakan sarana yang harus dipelopori umat islam.

Keberadaan IT bagi umat islam adalah suatu keniscayaan yang harus direalisasikan. Banyak sekali maslahat (kebaikan) yang bisa didapati. Mengingat, ini adalah sarana yang cukup utama di abad ini. Menilik kondisi sekarang, tentunya kita harus jujur untuk mengatakan bahwa  penguasaan IT sedang berpusat di kaum non muslim. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan. Layaknya sarana-sarana strategis lainnya, sarana IT juga harus dikuasai oleh umat islam. Dan, tentunya, segala upaya harus kita lakukan sebagai bagian dari umat muslim.

Utsman bin Affan pernah memperjuangkan untuk membeli sumur air dari orang Yahudi. Walaupun, sumur tersebut di jual dengan harga yang amat tinggi. Ini karena Utsman bin Affan melihat adanya suatu keharusan sarana umum tersebut dikuasai oleh islam. Sehingga mafsadat (keburukan) bisa terhindari. Walhasil, penduduk muslim tidak lagi harus membayar air pada saat mereka ingin mengambil air dari sumur orang Yahudi tersebut.

IT memiliki peran yang cukup potensial bagi umat ini di zaman ini. Oleh karena itu, penggunaan IT harus bisa kita maksimalkan demi kemajuan umat. Mulai dari yang kecil, kita bisa membuat blog yang memberi gambaran tentang islam lengkap dengan nilai-nilainya, membentuk komunitas islam virtual dari berbagai penjuru dunia,  dan membuat aplikasi-aplikasi islam edukatif. Sampai kepada yang besar, semisal, membuat satelit dan menciptakan perusahaan software ataupun hardware yang note bene nya masih banyak dipelopori oleh umat non islam.

Jadi, IT adalah sarana yang cukup potensial untuk kemajuan umat islam. Namun, penggunaan IT tentunya harus diimbangi dengan sumber daya yang kompeten. Oleh karena itu, kita sebagai umat islam harus senantiasa meningkatkan ilmu dan kompetensi kita. Khususnya, dalam bidang IT.

-agung wb-

referensi :

http://satyasembiring.wordpress.com/2007/12/28/perkembangan-it-di-indoenesia/

http://bizesha.wordpress.com/2007/09/24/islam-dan-teknologi/

Insomnia

•04/07/2009 • 1 Comment

Sudah beberapa hari ini saya mengalami kesulitan untuk tidur. Sebagian orang mengatakan bahwa yang saya alami adalah gejala dari penyakit insomnia. Walaupun, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa itu adalah perubahan dari pola hidup harian saya. Kesulitan tidur ini saya alami sudah sekitar satu bulan lamanya. Dan, sampai saat ini saya belum menemukan alternatif yang efektif untuk mengakhiri hal tersebut.

Saya sendiri kurang tahu perihal apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Saya berpikir ada benarnya juga saat orang mengatakan bahwa hal ini adalah perubahan pola hidup harian saya. Karena, semenjak beberapa bulan yang lalu, saya memang jarang tidur di bawah jam dua belas malam. Namun, hal itu dikarenakan saya harus mengikuti suatu rangkaian acara sampai larut, dilanjutkan dengan mengerjakan tugas perkuliahan atau menonton televisi dan mengobrol bersama teman. Artinya, saya memiliki alasan yang jelas untuk tidak tidur dan saat itu saya memang tidak memilih untuk tidur. Tetapi, saat ini berbeda kondisinya. Saya merasakan sangat sulit untuk tidur walaupun saya telah berusaha untuk tertidur.

Kejadian kemarin, misalnya, saat jam sepuluh malam, saya telah bersiap-siap untuk tidur. Namun, setelah setengah jam berbaring, saya belum juga terkantuk. Bahkan, kondisi saya saat itu sangat bugar sekali, seperti seorang yang baru bangun pagi. Untuk menimbulkan rasa kantuk saya, saya berinisiatif untuk mengerjakan sesuatu di depan komputer. Karena, biasanya sorotan cahaya komputer akan sedikit banyak membuat mata seseorang menjadi penang. Dan, setelah itu biasanya seseorang akan terkantuk. Kebetulan, saya memiliki tugas untuk mengerjakan design suatu produk bisnis. Setelah hampir dua jam, dan waktu telah melewati perbatasan malam, saya sama sekali terkantuk. Melihat hal tersebut tidak efektif, saya meninggalkan komputer dan bertekad memaksakan diri ini untuk tidur.

Sampai jam dua malam, saya belum juga tertidur. Sedangkan, disamping, adik sudah tertidur dengan pulasnya dari sekitar empat jam yang lalu. Saya melihat beberapa nyamuk beterbangan dan sesekali hinggap di tubuh adik. Lalu, saya menepuknya. Dan, itulah kegiatan saya sampai sekitar jam empat pagi, yaitu, “menepuk nyamuk”. Saya sendiri baru bisa benar-benar tidur pada hari itu seusai shalat subuh.

Itu hanya satu penggalan kisah dari derita kesulitan tidur saya. Tentunya, bagi saya, ini adalah hal yang sangat mengganggu. Karena, menjadikan pagi saya tidak produktif. Dan, tentunya ini juga bukanlah life style muslim yang baik.

Saya menceritakan hal ini kepada ibu saya. Saat itu, mbak Yati (yang membantu merapikan rumah) juga menyimak keluhan saya. Saat ibu belum komentar, mbak Yati berkata “ya kalo mau tidur, merem aja…”. Mendengar itu, saya tertawa kecil. Hati saya bergumam “semua orang tidur bukannya merem ya??”. Jawaban dari mbak Yati memang sedikit terdengar jenaka. Namun, ada kalimat lanjutan yang saya rasakan kebenarannya. Mbak Yati berkata “hmmm,,, mungkin pikirannya lagi semerawut kali…”. Saya berpikir bahwa ada benarnya juga perkataan mbak Yati.

Memang, sebelum ini, saya memiliki masalah. Dan, seingat saya, saat ini saya belum menemukan solusi yang canggih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, masalah tersebut telah hilang dari pikiran saya dengan sendirinya. Dan, sejujurnya, saya telah tidak memfokuskan pada solusi dari permasalahan tersebut.

Saya jadi teringat dengan pelajaran yang disampaikan Bang Arief Munandar dalam sesi Training Pengembangan Diri (TPD) bahwa sebenarnya manusia memiliki otak bawah sadar. Dan, fungsionalitas otak bawah sadar manusia jauh lebih tinggi dari otak sadar manusia. Oleh karena itu, otak bawah sadar manusia jauh lebih mempengaruhi manusia daripada otak sadarnya itu sendiri. Fakta inilah yang mengharuskan kita untuk mengulangi kalimat-kalimat positif atau selalu membayangkan kondisi ideal yang ingin kita capai. Semua itu bertujuan agar hal-hal tersebut bisa tercatat di otak bawah sadar kita. Situasi efektif untuk menggali otak bawah sadar kita adalah dengan menghadirkan gelombang otak alfa. Gelombang otak ini adalah gelombang transisi antara gelombang beta (saat seorang sadar dengan sepenuhnya) dan gelombang delta (saat seorang tertidur). Jadi, singkatnya, gelombang ini akan hadir saat kita sedang akan tertidur.

Saya memperkirakan bahwa permasalahan yang saya alami, sebenarnya, tidak hilang dan lenyap dari pikiran (otak) saya. Namun, ia telah terjerembab ke otak bawah sadar saya. Sehingga, secara tidak sadar, saya terus memikirkannya dan menginginkan sebuah solusi dari permasalahan itu. Terlebih lagi, saat saya menghadirkan gelombang otak alfa (saat ingin tidur). Saat itu adalah saat dimana otak bawah sadar memegang kendali pikiran dan diri kita. Mungkin, saat itu permasalahan itu terkuak kembali dengan tanpa saya sadari.

Ini hanyalah asumsi dari saya. Saya sendiri tidak dapat menganalisis secara pasti penyebab dari kesulitan tidur ini. Namun, yang jelas, sampai saat ini saya masih menderita insomnia. Bahkan, tulisan ini sendiri dibuat karena saya sedang kesulitan tidur.

Pecundang

•04/07/2009 • Leave a Comment

Satu masa telah lama tersingkap
saat kidung-kidung cinta tak lagi berharga
karena
sinden tua
penabur nada
telah lama membisu
dan menjadi pecundang abadi

benih-benih mimpi
yang dulu tersebar
tertata rapi dalam harapan
kini
hanya meratap dalam lamunan senja
ditemani getirnya senyuman bintang
yang enggan untuk berbinar
dak tak lagi tahu
dimana letaknya utara

semua sorot mata tertuju padanya
menghujam padanya
serentak, dan bertubi-tubi
mendikte segala kelalaian
kebodohan yang membunuh banyak kepercayaan

ia nampak tersenyum
bukan karena bahagia yang melanda
juga bukan suka cita yang membahana
namun,
itu hanyalah topeng
dari
beribu gejolak
yang telah berpadu
dan terus menghujam
kerajaan batinnya
dan merampas
mahkota mimpinya
sehingga tahta cinta
tak lagi berjaya
atas dirinya

ia terus berjalan
dalam ketertundukannya
tak mampu menatap
kilaunya pedang yang merentang
karena hidupnya
telah lama terenggut
oleh pedang-pedang itu
dan oleh jiwanya sendiri

ia adalah air yang terbakar oleh api
ia adalah serigala yang dimangsa oleh rusa
ia adalah dewa yang mati di tangan manusia
ia adalah raja yang diperintah oleh budak
ia adalah mimpi di alam nelangsa
dimana sayap-sayap hatinya
telah menjadi tombak
yang membunuh dirinya

rintihannya terdengar sangat lirih
tak lagi berirama
karena
mata-mata suara
telah merenggut
syair-syair kehidupannya
saat dirinya sedang berusaha
untuk mengenal
kabut harmoni kehidupan

Bangkitlah sang pecundang!!!
mainkan kembali harpa kehidupanmu
lalu lantunkan syair tentang kemenangan
bersama bisikan awan pagi
yang membawa sejuta harapan

Hiduplah kembali wahai pecundang!!!
Allah masih memberimu
harapan dan kesempatan
Saat sinar mentari kembali berpendar
Ledakkanlah senyummu
singkap segala misteri yang kelam
dan berpestalah di alam kebahagiaan

- agung wb -
02 Juli 2009

Resah

•04/07/2009 • 1 Comment

Gejolak batin semakin kuat
mengoyak segala batas yang ada
imaginasi terus terbang meninggi
meninggalkan dunia yang masih ada

Saat ketajaman mata elang
mengintai ular yang gelisah
akibat semua dosa
yang pernah di perbuatnya

bayangan itu tidak pernah hilang
dan siluetnya terasa semakin hitam
seiring berjalannya waktu
Aku masih terus disini
terus meratap dalam sepi

air mata tak lagi terbendung
saat sayap jiwa tak sanggup
merangkul raga
menuju pada satu pusara cinta
yang penuh dengan cahaya cinta
dan harum akan bunga-bunga cinta

hati ini tak bisa tenang
setenang angin pantai
yang berhembus tanpa suara
karena
kapal harapan telah berlayar bebas
mengikuti setiap angin yang mengajaknya
kemanapun angin itu pergi
bahkan, sang nahkoda kapal
telah lama karam oleh nafsu

Aku masih berada di dalam resahku
mengikuti alur amarah yang tercipta
menikmati derai cacian yang menerpa
di dalam selimut malam yang gulita

air mata telah menjadi laut
laut tanpa kehidupan
laut yang kering
laut yang tak lagi bermanfaat
laut yang mati
dan,
aku adalah laut tersebut

- agung wb -
02 Juli 2009

Just For My Mom

•04/07/2009 • Leave a Comment

Lentera malam telah terusik
ketika jiwa hendak bergegas meninggi
sudah layu kelopak mata ini
menahan ribuan canda di hari siang

Layar bumi telah tertutup
menyingkap sunyi dalam lamunan
tatkala jengkerik bersorak anggun
mendayung sepi hingga ku bosan

Tapi ku tak bisa terlelap

karena,
aku belum merasakan
kedatangan angin
yang biasa mengajak imaginasi
pergi menelusuri dimensi yang tak sejati
mengalir di sela lantunan hakiki

dan,
aku belum mencium
aroma udara
yang biasa merangkul kalbu
dengan sayap-sayap lembutnya

yang memapah dengan hangatnya
yang bersinar sangat terangnya

masih ku belum dapat terlelap

aku terus menunggu
kedatangan mahkota
yang bisa membuat
diri ini merasa kuat perkasa
walau terkadang,
tak sanggup menahan
keluarnya air mata

aku terus menanti
petikan dawai harmoni
dalam damai nuansa
melantunkan nada bersahaja
hingga aku tak lagi bernyawa

Hingga akhirnya Ia datang

seorang wanita,
pendendang lagu
dari telaga sunyi yang benderang

ia menatap hati hingga tak lagi sepi
ia merangkul sukma ia tak lagi sedih
ia menopang dada hingga ku bisa terus berlari

Kali ini,
Kembali lagi,
ia mengisahkan padaku
suatu lantunan ceritera penutup mata

dengan tutur yang memikat,
ia menggiring pikiran ini
menuju masa-masa yang tersingkap
mengambil inti dari setiap perjuangan
hingga ku bisa belajar dari teluk kehidupan

ia memperkenalkanku dengan tokoh peradaban
membisikkan rahasia dibalik kesuksesan
dan mengusik rajawali di sangkar mimpi
berharap terbang mengejar matahari

ia tersenyum,
berbinar dengan paras yang meneduhkan
walau raut sudah banyak bergurat
namun,
muara hatinya masih sesejuk dahulu
bahkan kini lebih terawat
karena tangan cinta
selalu memupuk pekarangan hati
dengan lantunan pujian
untuk Sang Pujangga Dunia

Wahai wanita
yang menghantarkan ku kepada dunia
apa yang bisa kuberi padamu?

apakah cukup dua buah surya?
atau satu belaian kasih?

aku tau mana yang kau pilih
karena materi
tak kau lebihkan
diatas rasa

Wahai kau,
orang yang banyak berjasa,

pribadi ini memang angkuh untuk memahami
pribadi ini memang miskin untuk mengganti
pribadi ini memang tak berdaya dalam mengartikan
secuat rasa yang kan terus bersemai
bersama anggukan sang pelangi sore
yang indah dan menghiasi

namun,
dari relung jiwa yang terdalam
keluar satu rintihan bahasa
yang ingin selalu terus kau pahami
bahwa tak habis aku
selalu berucap
terimakasih untukmu

My Mom

-agung wb-
kamis, 5 Februari 2009

Ungkapan Hati di Malam Hari

•04/07/2009 • Leave a Comment

Lihatlah dirimu
dalam gulita malam yang pekat
hitam tak bercahaya
gelap tak berpendar

Saksikan dirimu
bersama luapan amarah angin
berdiri dalam kegagahan
merasa diri tak bertuan

Wahai kau
manusia dalam keangkuhan
dalam malam kau tak terlihat
dalam dingin kau tak berdaya
dalam panas kau kan meronta

namun,
mengapa kau merasa tinggi menjulang
seakan matahari yang kokoh berdiri,
merasa bumi yang kuat dipijaki

Wahai hati
yang mengungkapkan resahnya dimalam hari
tumpahkanlah penat yang berpadu
bukalah pintu hati
yang sudah mulai terkunci
akibat permintaan nafsu yang terus diikuti
walau melanggar ratapan batin yang suci

Duhai jiwa yang masih terus merenungi
akan makna dari sebuah esensi
yang akan terus merajut
serpihan kalimat kehidupan
yang akan terus menggali
ungkapan pertanda tersirat

hingga sampai pada masa
dikala raga sudah tak bernada
disaat jiwa sudah mengangkasa

Teruslah meratap
wahai jiwa yang bergejolak
ungkapkanlah keluhan hati di malam hari
tepat di waktu sebelum cahaya

- agung wb -
selasa, 3 Februari 2009

Idealisme Kami

•04/07/2009 • 1 Comment

Sebuah keputusan yang berat memang untuk meninggalkan institusi ini. Awalnya, aku berharap banyak sekali hal bisa bisa aku kontribusikan disini. Namun, dengan segala pertimbangan yang ada, aku harus meninggalkannya. Bukan berarti aku ingin menghilang dan pergi dari semua hiruk pikuk yang ada. Tetapi, ada sebuah penyesalan dan rasa bersalah kepada mereka yang harus dituntaskan dari sekarang. Karena, Aku tidak ingin, seiring berjalannya waktu, rasa sesal ini terus bertambah hanya karena diriku yang masih belum bisa belajar dari kesalahan dan belum bisa mengendalikan nafsu yang ada.

Aku tahu mereka baik padaku. Mereka ingin aku berubah. Mereka menyayangiku dengan segala rasa yang mereka miliki. Mereka selalu tersenyum padaku dan bertanya tentang masalah yang sedang aku geluti saat mimik wajahku penuh dengan kegelisahan. Mereka akan terus menepuk pundakku untuk menggetarkan singa yang sedang terlelap. Air mata ini sering jatuh ketika aku memikirkan tentang ketulusan mereka. Aku tidak pernah menemukan apa yang bisa mereka dapatkan disini. Kecuali, cinta yang tulus dan harapan yang indah. Salut dan cintaku untuk mereka.

Aku akan berubah dan akan terus berubah! Aku akan terus berusaha untuk merubah sifat bajinganku. Itu akan terus aku lakukan selagi jiwa masih menyatu dengan raga baik di dalam ataupun di luar institusi ini. Perubahan ada sebuah keniscayaan bagiku.

Untukku, sepuluh bulan dalam naungan institusi ini adalah waktu yang sangat singkat. Terutama dalam merajut ikatan ukhuwah ini. Oleh karena itu, aku tidak akan pernah memutuskan rantai itu. Aku tidak akan pernah menggali kembali jurang kegelapan di saat pelangi terindah telah menjadi jembatan antara aku dan mereka. Karena, pelangi itu akan terus memendarkan warna-warni sinarnya dan terus meninggi sampai ke surga. Dan, aku akan terus menjaganya.

Institusi ini memberi banyak makna bagiku. Namun, dari sekian banyaknya tulisan yang terpatri aku merasakan ada satu kesan yang begitu dalam yang sulit ku lupakan. Kesan itu bukanlah kesan pada saat latihan gabungan, bukan rasa jengkel akibat bentakkan yang begitu keras, bukan kekalahan bersama saat bertanding futsal, bukan acara yang terlalu malam, bukan apel yang terlalu serius, bukan juga saat TNI bercerita. Namun, kesan itu adalah teman.

Institusi ini juga telah memberikan banyak nilai dan pemahaman kepadaku. Internalisasi sebuah nilai adalah hal yang amat sulit terhapuskan. Terutama, jikalau ia sudah melekat di dalam pusara hati. Nilai ini akan terus aku pagar dan sebisa mungkin aku kumandangkan kepada seluruh jagad. Sejauh apapun aku berjarak dengan gedung itu, nilai itu akan selalu berada dalam kantung hatiku. Karena, nilai itu adalah aku sendiri.

Aku tidak akan pernah melupakan tangisanku saat pertama kali mendengarkan idealisme kita. Idealisme yang membimbing angan ini untuk menggapai suatu hal yang suci. Idealisme ini mengingatkanku pada sebuah perjuangan. Idealisme para ksatria yang tidak pernah mengenal lelah dalam menapaki jalan kebenaran. Idealisme para syuhada yang terus berjuang tanpa mengenal lelah. Idealisme yang menawarkan senyuman sebagai titik akhirnya. Dan, ksatria itu tahu bahwa senyuman itu tidak akan pernah mereka dapatkan di dunia.

Akhirnya, aku hanya bisa berkata bahwa harapan itu masih ada. Harapan itu masih dengan erat digenggam oleh para ksatria yang gagah berani. Ksatria yang tidak mengenal rasa lelah. Ksatria yang benar-benar merindukan surga. Dan, aku berharap aku akan terus menjadi ksatria itu dimanapun aku berada.

Idealisme Kami

Betapa inginnya kami
agar bangsa ini mengetahui
bahwa mereka lebih kami cintai
daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga
ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga
bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan,
dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu
yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta
yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur
dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati
ketika kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui
bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci;
bersih dari ambisi pribadi,
bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia;
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas,
apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah-Pencipta alam semesta.